Death Anxiety : Bukan definisi, tapi yang dirasakan.

ALhamdulillah, ADB terus saja mengulang ucapan itu dalam hati. Setiap saat. Bagaimana tidak? insya Allah dalam 3 minggu ini, anak ADB akan lahir. Gembira. Tentu saja. Namun bukan Anxiety namanya kalo dia tidak menyerang dalam kondisi dan situasi apapun. Yah, Kecemasan ini selalu menghantui. Tentang apa? Death anxiety. Sebenarnya bukan diri ADB yang ADB cemaskan saat ini. Tetapi orang tua ADB, dan tentu saja mertua juga. Kenapa? Saat dulu ADB telah menikah, mereka berharap ADB bisa langsung dikaruniai momongan. Setiap hari mereka tanyakan. Bagaimana hasilnya, bagiamana kondisinya dll. Dan kini, setelah setahun menikah, alhamdulillah istri ADB mengandung. Dan Insya Allah dalam bulan ini istri ADB melahirkan anak kami. Yang ADB cemaskan adalah, dengan bertambahnya anggota keluarga baru, dan dengan semakin besarnya anak ADB nanti, umur mereka akan semakin berkurang. Dalam benak ADB selalu penasaran, tidakkah ayah dan ibu kawatir dengan umur mereka? Mereka terlihat bahagia saat mendengar kabar istri ADB hamil. Mereka tidak sabar ingin segera menggendong cucu pertama mereka.

Namun ADB cemas akan mereka. Hadirnya seorang cucu berarti ayah dan ibu semakin tua. Mereka akan dipanggil kakek dan nenek. Inilah yang ADB takutkan brosis. Walaupun memang begitulah hidup. Tapi ADB sangat mencemaskan itu. Inilah death anxiety, yang selalu mengganggu ADB. ADB sangat takut kehilangan ayah dan ibu.

Karena ADB adalah orang yang gengsi. entah kenapa bisa begitu, tapi sekedar bilang sayang ke ibu atau ayah saja, ADB  berat rasanya. Padahal ADB selalu “ngeman” mereka. Apalagi sang ayah, yang sejak beliau masih berumur 7 tahun, sudah harus kehilangan ayahnya. Benar, ADB belum pernah melihat kakek ADB yang dari ayah secara langsung. Hanya dari foto yang sudah usang. Jadi sejak kecil, ayah ADB harus bekerja demi membantu nenek ADB juga untuk menghidupi 3 orang adik dari ayah ADB. Kalau mengingat itu semua, ADB kasihan sampai saat ini ayah ADB masih harus bekerja. ADB fikir ayah mungkin merasa lelah, karena sejak kecil beliau sudah harus akrab dengan yang namanya banting tulang. Lain cerita dengan ibu ADB. Wanita hebat ini sejak kecil pun harus berpisah dengan ibundanya. Dikarenakan kakek ADB yang memilih bercerai dengan ibu kandung ibu ADB. Jadilah ibu ADB ini hiudp dengan ibu tiri. Kalau baik tidak mengapa. Namun ibu tiri ibu ADB ini sangat jahat pada ibu ADB.

Kini, baik kakek ataupun nenek ADB dari ibu, semua telah meninggal. Baik itu ibu kandung dari IBU ADB, ataupun ibu tirinya. Dan yang masih ADB miliki adalah ibu kandung ayah ADB. Beliau alhamdulillah masih sehat. Dengan umur yang tentunya sudah sepuh, beliau masih bisa berjalan dengan tegak.

Mungkin kecemasan ADB ini aneh, karena sebagai manusia, lumrahnya adalah memang menunggu yang namanya mati. benar bukan..?? tapi inilah death anxiety, terlalu berlebihan mencemaskan kematian. Entah itu diri sendiri, ataupun orang lain..hidup seperti terganggu. Rasanya? ini gila brosis. Klo teringat itu seperti ingin memutar waktu saja. Andai saja bisa, namun itu hanya berandai andai. Bagaiamna dengan brosis sekalian..?? (ADB)

Iklan

2 thoughts on “Death Anxiety : Bukan definisi, tapi yang dirasakan.

  1. Waaah.. Mudah2an persalinannya nanti lancar ya bro. Btw sy pun selalu mencemaskan org2 sekitar (keluRga inti). Sy pun hampir sama dlm kondisi itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s